Anak-anak band pada jatuh cinta sama vokalis mereka sendiri

Category : cerpen

Pier & Metal Death

Female Vocal (4)


Anak-anak band pada jatuh cinta sama vokalis mereka sendiri


Di Sabtu sore Pier lagi ngupi di kamarnya ketika Giok nongol mo’…….(mo apalagi kalo ga mo minjem duit.)

“Pinjemin duit dong, Pier!” ( nah lo, bener kan)

“Yang kemaren aja belon lo balikin” ujar Pier

“Sungguh, gue lagi pakir. Ntar gue balikin hari Senin sama utang gue kemarin. Sial bener malem Minggu gak ada duit. Gue lagi ada kencan. Pinjemin,ya…pliiiissssss…”

“Salah lo kenapa tau malem Minggu gak punya duit nekat kencan. Kenapa gak pilih malem-malem yang lo punya duit…”

“Please…please..please…” Giok masih ngeyel

“Eh, lo piker gue punya duit apa! Tadi aja sempet pecah celengan buat beli kaos metal”

“Aduh , Pier..Ini penting! Kencan pertama. Bisa gawat kalo batal”

Pier heran. “Kencan pertama!? Emang Epin dah lo cerai”

“Yeee hare gene..lo kan ngerti roda mesti pake ban serep. Gue cinta banget sama cewe ini”

Pier gak tega ngeliat tampang Giok yang sekarang kayak kadal keinjek ekornya. Dia masih punya uang sisa beli kaos. Dia merogoh sakunya dan ngasih ke Giok.

“Kupret!! Masa gopek! Yang bener aza, Pier”

“Dibilangin! Tadi buat beli kaos! Lagian  salah orang kalo lo minjem ke gue.. lo pinjem ke Paul sana!”

“Paul? Iya tadi udah kesana..dapet dua ribu..”

“Yaa, itu kan lebih dari cukup. Kita mesti irit untuk jadi kaya “ ujar Pier nirukan pepatah. “Eh-tapi..lo dapet di mana cewe baru itu?”

“Lhah, lo belon tau ya kalo gue jadian sama Nurma?” kata Giok tersenyum lebar. “Rambutnya, alisnya, matanya, bibirnya, kumisnya…eh, gak-ding! Aduh-Nurma, kamu bidadariku..kamu kok cakep amat”

Pier masih tercenung saat Giok berjingkat keluar kamar sambil nenteng kaos baru Pier yang masih kebungkus plastik. Telinganya samar denger suara Giok koar-koar.

“Gue bawa duluuuu…hari senen gue balikinn…!!”

Padahal kaos itu…….

Pier pandangi langit-langit kamarnya yang sepertinya penuh garis-garis tak beraturan. Dia masih ke bawa ke soal barusan. Giok jadian sama Nurma? Entah ini benar ato salah, yang jelas dia pasti udah gedebuk cinta sama si Nurma. Tadi waktu ke kamar Asgus, dia liat poster Nurma ditempel menuhin kamar, ada juga tulisan-tulisan norak ungkapan hati kalo dia suka Nurma. Anak-anak band pada jatuh cinta sama vokalis mereka sendiri. Si Butak? Ah, gak mungkin! Gak mungkin keterima! Atau…jangan-jangan bos Paul falling in love juga..

Pier ganti pandangi poster gede James Murphy-nya Disincarnate yang nempel di pintu kamar. Apakah harus ditetel dan diganti poster Nurma kayak di kamar Asgus? Dia juga punya poster Nurma di tumpukan majalah.

Suara radio tetangga sebelah yang muter lagu Pop Dangdut  nyadarin lamunannya. Matanya melirik ke jam dinding. “Busyet, udah jam tengah lima! Gue mesti cepet-cepet mandi. Gue mo’ ke rumah Nurma ngasih hadiah kaos metal yang tadi dibeli”

Tapi……

Giok……..sumpah lo jelek bangeeeeeettttt!!

Pier langsung meraung-raung

Sementara diwaktu yang sama, tiga kilometer dari rumah Pier, tampak dua anak manusia berjalan menyusuri trotoar menuju distro Soundation milik mbak Indri.

Dua anak manusia itu Butak sama Nurma (Hah! Taruhan lo pasti juga pada kaget!). Butak yang seumur-umur selalu ditolak cewek? Butak yang dulu melas banget pernah curhat ke Pier, ” …kenapa, ya, gue selalu susah nyari cewek, padahal tampang gue hamper cakep..kalo gini terus, enakan gue pacarin aja si Giok….gue pasti keterima..Gue sedih..”

“Kenapa lo sedih? Ya, pacarin aja !” nasehat Pier ikut sedih. Butak jadi sedikit terhibur dan tak terasa airmata nitik dari matanya yang bulat.

Dan sekarang merupakan peristiwa langka yang patut dicatet di buku sejarah. Butak jalan mesra sama cewek, meski cewek itu temen sendiri. Sbenarnya Butak gak jelek-jelek amat. Cakep malah. Liat aja, tiap sabtu sore dia setia diapelin sama bang Joni yang tukang kredit. Bahkan kalo kreditnya nunggak dan macet, bisa seminggu tiga kali ngapelnya. Romantis banget. Sering jenggung-jenggungan kalo Butak nekat gak mau bayar cicilan kredit.

Tapi yang sekarang terjadi benar-benar di luar akal sehat. Butak bergandengan mesra dengan Nurma. Mereka memasuki distro.

“Sore-sore… “ sapa Butak pada mbak Indri yang masih asik melayani pembeli yang rada usil.

“Rantai ini bener kuat ya, Mbak?” tanya pembeli itu sambil narik-narik rantai aksesoris dari logam.

“Kuat dong. Gak percaya? Kamu banting juga gak pecah “ jawab mbak Indri centil dan gagah(??)

“Bukan begitu. Soalnya rante ini mau saya beli semua”

“Banyak banget. Buat apa? Mau dikulak?”

“Enggak,Mbak. Buat ngerante anak orangutan di rumah,” ujar pembeli itu lagi,” tapi bener kuat, ya?”

“Kuat. Dicoba dulu aja buat ngerante bapaknya!” kata mbak Indri nunjuk kearah Butak. Butak yang lagi milih-milih kaos kaget.

—————————

Salma, music studio

at 02.06 pm

Anak-anak butek banget tampangnya sehabis latihan. Hari ini permainan mereka […]



[cerpen] Female Vocal

–  Female Vocal (1)

–  Female Vocal (2)

–  Female Vocal (3)

–  Female Vocal (4)

Kabut turun pekat, menutup mentari yang mulai jatuh di langit barat

Category : cerpen

Rumpun Duri Ranupane (1)

Kabut turun pekat, menutup mentari yang mulai jatuh di langit barat. Mendadak udara menjadi sangat beku. Ilalang mengetatkan jaketnya. Galau sekali gadis itu memandang gerumbul semak duri di tepi-tepi telaga Ranupane. Dia baru menyudahi setelah kabut mulai merintangi pandangannya. Tak tahan dingin Ilalang beranjak masuk ke pondokan pendaki.

“La….mereka datang!”  terdengar teriakan dari luar pondok. Ilalang terperanjat. Suara Ilham sahabatnya mengusik lengang ruangan.

“Semuanya sudah ditemukan?”  Tanya Ilalang antusias.

“Keempat mayat sudah dibawa ke basecamp,” sahut Ilham,”kondisinya parah..mungkin meninggal seminggu lalu….”

“Anak mana..?”

“Susah dikenali, belum ada keterangan pasti..”

“Mas Ragil?!” potong Ilalang cepat.

“Belum kelihatan, masih di atas bersama tim terakhir…”

“Kita ke sana!”

Keduanya menuju pos basecamp pendakian yang tak jauh dari tempat itu. Ini hari kedua gadis itu di Ranupane. Menunggu mas Ragil beserta rekan tim SAR mengevakuasi mayat para pendaki yang meninggal di Semeru, dan menunggu…Danny yang ia tahu juga mendaki di gunung itu. Sampai sekarang belum turun!

“Bentar, Ham….” seru Ilalang menghentikan langkah. “….Danny ada diantara mayat itu?”

Ilham memandang sendu Ilalang.

“…entah..?” suara Ilham lirih. Ia gandeng erat lengan Ilalang. Ia tahu gadis itu sangat cemas.

Tiba di basecamp tempat itu penuh anggota tim SAR. Beberapa penduduk sekitar juga ikut melihat keempat mayat yang dijajarkan di balai ruangan. Ilalang menyurutkan langkah. Keraguan menyesak di dada gadis itu.

“…Danny…kamu tidak secepat ini mati…jangan ambil nyawanya, Tuhan….lindungi dia….” Doa Ilalang

Dengan keberanian yang tersisa ia mendekat. Tubuhnya gemetar menatapi mayat itu satu persatu.

[cerpen] Rumpun Duri Ranupane

 

update : bagian terakhir ‘ Rumpun Duri Ranupane

 

Puncaknya saat ia mendengar tentang penemuan mayat pendaki liar di Semeru oleh penduduk pencari tanaman obat

Category : cerpen

Rumpun Duri Ranupane (2)

Ilalang sedang menikmati tayangan televisi pagi itu. Gerimis meluncur kecil-kecil sisa hujan deras semalaman. Membuat malas gadis itu untuk berangkat ke kampus. Sampai suara telepon memaksanya bangkit.

“Hallo bisa bicara dengan Ilalang…” Terdengar suara dari seberang.

“ ya, ini Ilalang…”

“Oh….dik Lala, ya… ini tante Ratrih…”

Ternyata tante Ratrih mamanya Danny.

“Ada apa tante…?”

“Dik Lala tahu nggak kemana Danny naik gunung?”

“…engga, Tante! Danny memang bilang mau naik gunung…tapi engga cerita  mau naik kemana…”

Terdengar desah kecewa dari wanita itu.

“…aduh…gimana ya, dik Lala…tante takut sekali….mana cuaca seperti ini,..Danny suka nekat! HP saja ditinggal di rumah…tante bingung…”

Ilalang juga mulai cemas.

“ee…biar Lala cari tahu ke teman-teman…”

“Tolong bantu tante ya, dik Lala….”

“Baik tante…”

Ilalang bolak-balik mencari tahu keberadaan Danny. Nihil! Teman-teman Danny tidak ada yang tahu kemana perginya.

Danny…kamu gila!  Bathin Ilalang kesal

Puncaknya saat ia mendengar tentang penemuan mayat pendaki liar di Semeru oleh penduduk pencari tanaman obat. Hati Ilalang berdebum keras! Ia mulai menduga hal buruk terjadi. Dia tahu Danny sering mendaki gunung itu.

Kepastiannya ia perlu menemui mas Ragil, teman dekat Danny yang anggota SAR wilayah.

“Tolong bawa Danny kembali untuk Ilalang….” pintanya penuh harap saat mas Ragil dan rombongannya berangkat ke gunung.

[cerpen] Rumpun Duri Ranupane

Bunga itu menyembul di antara semak di pinggir telaga Ranupane

Category : cerpen

Rumpun Duri Ranupane (3)

Perkenalan mereka singkat.

Bunga itu menyembul di antara semak di pinggir telaga Ranupane. Menebarkan pesona hingga memikat rasa suka di mata siapapun yang melihat. Ilalang menghampiri. Dia tak memperdulikan rombongan temen-temannya yang telah jauh meninggalkan dia, menuju kendaraan yang akan membawa mereka kembali ke Malang. Ia berniat mengambil dan menanamnya nanti setibanya di rumah.

Agak menjorok ke bibir telaga letaknya. Ilalang menjejak-jejakkan kakinya mencari pijakan tanah yang lebih keras. Setelah berhasil ia merunduk dan mulai menggali dengan pisau kecil yang dibawanya. Hati-hati sekali ia mencabut akar tanaman itu. Indah sempurna! Lama ia pandangi bunga yang kini telah ada di tangannya.

Setelah puas ia segera kembali. Tetapi langkahnya yang tergesa berakibat….Oukh..!! Hampir saja dia terjatuh ke telaga kalau saja tak ada tangan yang menariknya. Ia bersigap. Belum pulih benar kesadarannya dia mendengar gedebuk orang yang menolongnya terperosok ke cekungan semak. Rupanya backpack berat di punggung orang itu membebani ,keseimbangannya.

“Bantu, dong…!” kata orang itu menggapaikan tangannya ke Ilalang.

Ilalang diam saja. Ia masih terkesima dengan dewa penolongnya itu. …cowok…lumayan sangar dengan mata sekelam rimba.

“Mau nolong nggak..!” ulang orang itu

Ilalang mengulurkan tangannya. Ia meneliti lelaki di hadapannya. Sekali lagi dia terpekik

“Pipi kamu berdarah!’ katanya kemudian

Lelaki itu meringis menahan sakit di wajah akibat tergores patahan ranting waktu jatuh tadi.

“Aku carikan obat merah..,” lanjut Ilalang membuka daypack miliknya. “Makanya jangan sok jadi pahlawan, tewas dulu kamu…”

-“Siapa yang mau nolong…,” kilah lelaki itu sambil memijit lukanya yang semakin berdarah,” …iyalah… besok lagi nggak usah ditolong biar nyebur sekalian….”

“Bukan itu maksudnya..” terus Ilalang masih mencari-cari di saku tas. “Enggak ada! Di ransel kamu ada?”

Lelaki itu Cuma menggelengkan kepala.

“Kamu tunggu di sini ya, tapi jangan kemana-mana…aku ambilkan obat merah dulu..!”

Ilalang berlari kecil menyusul rombongannya.  Bersemangat sekali gadis itu. Tidak seperti  kemarin tiga hari berkemah bersama teman putih abu-abunya. Sebenarnya ia tidak begitu suka kegiatan alam terbuka. Ia mengiyakan sewaktu diajak camping perpisahan kelas. Menghibur hati setelah bersitegang dengan Reno, kekasihnya. Lagipula mungkin ini saat  terakhir berbagi senang bareng teman sekelas.

Kembali lagi, Ilalang membawa obat yang dimaksud. Ia mengamati setiap penjuru. Betapa kecewa hatinya ketika tidak didapatinya lelaki itu. …atau…jangan-jangan benar mitos itu, kalo daerah ini masih angker! Tidak hanya lari kecil, sekarang dia berlari sekuat kakinya meninggalkan tempat itu. Setannn!!!

[cerpen] Rumpun Duri Ranupane

Mobil-mobil 4 WD mulai melaju beriringan

Category : cerpen

Rumpun Duri Ranupane (4)

Mobil-mobil 4 WD mulai melaju beriringan. Pandangan Ilalang tak hentinya mencari-cari berharap masih menemukan lelaki yang menolongnya di pinggir telaga. Harapannya terkabulkan. Lelaki itu melambaikan tangan menghentikan mobil. Mendekati Ilalang. Tampangnya kini jadi lucu dengan plester besar di pipi menutup lukanya.

“Ikut numpang sampai bawah ya” katanya

“Aduh sudah penuh, mas..enggak boleh!” sahut Ilalang tipis

“Boleh ya nona….tadi aku sudah tolong kamu, sekarang gantian..”

“Yee.. ternyata ada maunya…” Ilalang melirik teman-temannya dan pak sopir. “….boleh tapi ntar bayar!” canda Ilalang galak.

“Makasih, manis…”ucap lelaki itu meloncat ke mobil.

“Eitt!!! Enak aja, sana di mobil belakang, sini sudah penuh!”

Lelaki itu berjalan lemas menuju mobil di belakang yang mengangkut seluruh peralatan camping. Ia tak memperdulikan teriakan Ilalang yang menanyakan namanya.

Rombongan itu mulai meninggalkan Ranupane menuju kota Malang. Sepanjang perjalanan Ilalang sebentar-sebentar menengok ke belakang. Ia merasa kasihan dengan lelaki itu yang terpaksa ikut mobil barang karena memang mobilnya sudah penuh. Dan wajahnya merona saat bertatap-mata jika tiba-tiba mobil yang di tumpangi lelaki itu mendahuluinya.

Tak ia pungkiri hatinya mekar saat itu.

Ketika sampai di Malang Ilalang bergegas menuju mobil barang itu. Untuk kedua kalinya lelaki itu tak didapatinya. Menghilang! Ia mendongkol kesal. Sayang, jangankan alamat dan segala hal tentang lelaki mata kelam itu, namapun tak ia ketahui. Hatinya patah kecewa.

[cerpen] Rumpun Duri Ranupane