Maaf jika dirimu ada di hatiku [puisi]

Category : puisi

Apa yang seharusnya terjadi,
untuk melupakan semua ini,
dan membuang semua yang tersisa dari seluruh hatiku,
ke dasar palung samudera, atau ke pekat sudut langit yang sangat jauh,
hilang ke dalam kabut gunung, ke jurang dalam, atau di belantara rimba

Tuhan,
masih saja bunga bermekaran di hatiku,
sedangkan daun layu berguguran
sedangkan ini salah dan tak pada tempatnya

Hatiku dahulu terlalu berwarna pucat,
sedangkan kini sengsara penuh warna

Maaf  jika dirimu ada di hatiku

Maaf jika dirimu ada di hatiku [sms]

Category : sms

————————————————

kU ky’e jatuh cnta m s’org…

tpi …

lpaen cz niy salah n g pada t4nya….

biar kU sj yang rasa…

mf klo smskU bwt mU g nyaman, bwt mU sedih….

Biarin sj htkU berserakan…

Cz d sna bunga bermekaran

Md mlm md izti…

Pzti hri niy hr yg buruk bwtmU….

————————————————

kU ngrti bgd mU akn b’kata ap…

sprti kU jg g akan prnh tau dng semua ini….

btp susahny bwt lpaen bhwa kU prnh pny k’hidupn….

Y_uD.. dr pd mU mLu n ga enak bwt nulisny, ku aja yg nulis:

~ bYe….

10 Hal Yang Di-Ingini Wanita Yang Harus Ada Pada Diri Seorang Pria.

Category : aku dan kau

10 Hal Yang Di-Ingini Wanita Yang Harus Ada Pada Diri Seorang Pria.


No.10 – Mandiri dan merdeka

Wanita ingin pria yang dapat mengurus dirinya sendiri, independen, mampu membuat keputusan sendiri.

No.9 – Penampilan

Wanita tidak meminta banyak. Cobalah untuk menjaga diri sendiri rapi. Kenakan pakaian yang sesuai, dan setidaknya berusaha untuk menjaga  penampilan diri..

No.8 – Berbuat yang positif

Jadilah pria yang berpikiran positif, bertindak positif, optimis dan membuat orang lain merasa senang; penuh inspirasi.

No.7 – Komunikatif

Wanita membutuhkan pria yang penuh perhatian, bisa diajak bicara, mau mendengar keluhan meraka

No.6 – Keramahan

Seorang wanita menginginkan pria yang ramah saat berada di depan orang banyak.

No.5 – Pandai dalam banyak hal
Banyak wanita menemukan kecerdasan sebagai suatu yang seksi pada pria. Jadilah pria yang  selalu belajar untuk menjadi lebih pintar dihadapan wanita.

No.4 – Penuh gairah dan semangat

Jika seorang wanita berpikir tentang menghabiskan waktu bersama, dia ingin tahu bahwa dia dapat berharap untuk petualangan, semangat, komitmen, pengabdian, dan seks yang hebat. Wanita suka melihat pria penuh semangat dan serius dalam pekerjaan atau kegiatan kemanusiaan.

No.3 – Sense humor

Rasa humor yang baik adalah salah satu yang diingini wanita. Orang yang lucu lebih menyenangkan daripada orang yang membosankan dan pemarah.

No.2 – Punya Ambisi

Alasan perempuan tertarik pria dengan karir yang sukses adalah bukan karena ukuran gaji mereka, melainkan karena keberhasilan mereka di tempat kerja merupakan indikasi tertentu ciri kepribadian yang menarik: komitmen, disiplin, etika kerja yang kuat.

No.1 – Keyakinan

Keyakinan adalah satu hal mendasar yang diingini wanita dalam diri seorang pria Keyakinan adalah raja. Jadilah pria yang penuh keyakinan dan memiliki semangat yang kuat untuk mewujudkannya.

link home

Aku menunda kepulanganku

Category : cerpen

Langit Pucat Fort Marlborough[1]


Matahari sore bersinar lembut dengan tepian bulatan melingkar sempurna. Merah merekah. Kurasa akan terjadi sunset yang indah manakala menyentuh garis lautan sebagai batas akhir pandangan. Selanjutnya memberi kesempatan kegelapan malam menaungi kota Bengkulu. Masih cukup lama. Dan membiarkan aku sendirian menikmati senja dari atas benteng Marlborough. Aku menengok jalanan masuk tetapi mataku tak mendapati kedatangan gadis itu.

“Kenapa, kok-malah bengong?” kataku siang tadi di sekolahnya.

Pipit, gadis itu, diam saja. Kelihatan tak hendak menanggapi perkataanku.

“Manis…., aku kesini  pengen denger suara kamu” kataku lagi.

Aku terus berusaha mengusiknya, tetapi rasanya sia-sia kenekatanku.

“Ngomong dong, Pit! Lucu kalo kamu diam saja” aku masih sabar menanti, “tuh, temen-temen kamu pada lihat semua, disangkanya kamu maneken di butik mode kali”

Tak ada perubahan! Gadis itui malah menatapku tajam. Kuikuti gerak manik matanya. Ia malah membuang muka.

“Baiklah…,” ucapku selanjutnya, tak perduli Pipit mendengar atau tidak suaraku.  “Kamu sedih ya aku tinggalkan? Sedih karena aku harus pulang ke kotaku? Tidak usah sentimentil, nona. Aku masih bisa menghubungi kamu sewaktu-waktu, aku masih bisa telepon kamu, masih bisa ke Bengkulu lagi. Disini aku masih punya famili om Budi. Atau….”

Aku terus bicara sendiri, hingga Pipit mungkin merasa kasihan melihatku. Yang kutunggu-tunggu mulai meluncur dari pita suaranya.

“Sudah selesai? Pipit masih setia mendengar pidato anda, Tuan.”

Aku tak menggubrisnya.sebaliknya aku cubit hidungnya. Ia meringis, sepertinya aku terlalu keras melakukannya.

“Kamu kok ge-er banget sekarang? Katanya selanjutnya

“Iya, benar, itu karena seorang gadis yang kini berdiri seperti patung di depanku”

Pipit memandangku ketus dan ganti meninju lenganku. Kali ini bukan hanya keras, tapi sepertinya ada bagian tulangku yang remuk. Aku meraung kesakitan. Pipit malah tertawa tak kalah serunya. Aku suka. Ini adalah ekspresi alaminya, tak seperti tadi, entah makhluk dari mana yang ada di hadapanku.

“Sudahlah! Katanya mau pamitan. Cepetan! Pipit masih ada test. Berani nanggung jika Pipit harus ikut test susulan?” katanya berapi-api, kayaknya memang dia terburu-buru.

“Berani!” potongku, ia spontan meninju lengan sebelahku, aku hampir pingsan merasakannya. Aku menyerah.

“Janji kamu nggak menangis setelah mendengarnya. Malu-dong ketahuan teman-teman kamu” kataku masih bercanda, kali ini aku sudah bersiap-siap menangkis jika Pipit meninjuku lagi.

“Kalo masih ngomong yang engga-engga Pipit balik ke kelas!” ancamnya.

“Jangan!”

Aku panik kalau dia sungguh-sungguh dengan ucapannya.

“Oke, nona..” aku mencoba bersungguh-sungguh,” tapi, seperti tadi, janji kamu nggak sedih setelah ini, nggak akan nangis, nggak sering melamunkan aku…hehe..rajin belajar, jadi anak SMA yang manis, ……..”

Dengan lugas kuucapkan kata pamitanku. Pada Pipit, gadis manis yang kerapkali mengingatkan aku pada Ramauna adikku. Dia adalah semangatku di kota ini, dimana aku terpisah cukup jauh dari tanah kelahiran. Selepas SMA..dan juga setelah mama-papa bercerai, aku sungguh labil dan muak dengan semuanya. Lebih baik aku meninggalkan Semarang kotaku. Aku ingin melupakan segalanya. Kemudian aku ke kota ini, kebetulan om Budi, kakak ibuku, bisa mencarikan aku pekerjaan. Aku jadi berangkat ke Bengkulu. Dan waktu hampir satu tahun tak mengobati lukaku, juga kerinduanku pada Ramauna adikku satu-satunya, dan pada …Tindra, gadis yang pernah ada di hatiku yang kini aku tak tahu kabarnya.

Entah memperhatikan seluruh kata-kataku atau tidak, setelah selesai mengatakannya, kudapati keanehan yang kurasakan. Pipit tersaenyum lama padaku. Aku kesulitan mengartikan bias-bias dibalik bening matanya. Setelah menjabat tanganku, yang aku tak tahan hingga kurangkul dia, ia lalu berbalik ke kelasnya. Mungkin benar, ia sedang pusing memikirkan soal test yang ia tinggalkan. Aku keluar dari gerbang sekolah dengan galau yang menggayut.

Angin laut berhembus keras menerpa. Beberapa anak kecil terlihat sedang bermain bola di bagian benteng yang berumput dan datar. Cukup mengasikkan meski arena itu tak begitu lapang. Kuamati jalanan masuk benteng. Aku kecewa, gadis itu belum juga menampakkan diri.

Harusnya saat ini aku ada di dalam bus. Melaju beberapa puluh kilometer meninggalkan kota Bengkulu. Aku menunda kepulanganku. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan dengan gadis itu.



[cerpen] Langit Pucat Fort Marlborough

* Langit Pucat Fort Marlborough [1]

* Langit Pucat Fort Marlborough [2]

* Langit Pucat Fort Marlborough [3]

Bengkulu ini seperti Rafflesia Arnoldii,

Category : cerpen

Langit Pucat Fort Marlborough [2]


“Kayak apa kota Semarang?”

“Kayak apa, ya?” aku memikir-mikir, “…kayak banjir deras…menghanyutkan  dan cepat!”

“Cepat apanya?”

“Cepat banjirnya!” kataku lantang. Pipit tertawa. Aku paling suka melihat dia kalau tertawa lepas.

“Sekarang seperti apa Bengkulu?” balasku bertanya

Ia tak segera menjawab. Kepalanya mendongak keatas. Eksyen yang juga aku rindukan.

“Cari apa?” potongku cepat.

“Cari malaikat kasih contekan jawaban!” jawabnya ringan. Ia menbuatku menunggu lama. “…..seperti apa,ya ….. seperti Rafflesia, indah dan tak ada duanya.”

Mungkin benar jawabannya. Bengkulu ini seperti Rafflesia Arnoldii, bunga langka yang kadang terlihat dan ditemui di hutan-hutan Bengkulu. Begitupun kota ini bagiku. Kadang mekar di hatiku, kadang  aku bosan dan ingin meninggalkannya. Apa yang ditawarkan kota Bengkulu bagiku? Kota tepi pantai? Aku bahkan lebih suka Kepahiang, bagian Bengkulu paling atas. Kota kecil yang eksotis menurutku. Hawa dingin yang menyayat tubuh, suasana tradisional yang masih kental, atau perkebunan kopi di pegunungan. Sama-sama di dataran tinggi mungkin orang lebih memilih Curup yang lebih ramai dan kota.

“Nggak! Bengkulu ini bukannya indah tetapi ngeri!” protesku

“Nggak bisa!” ia menukas cepat.

“Lho-kamu sendiri yang bilang mirip bunga Rafflesia. Bunga Rafflesia  mengerikan!”

Aku jadi akrab dengan Pipit yang mula pertama kujumpai di Fort Marlborough di suatu sore. Seorang teman yang kepadanya aku berbagi rasa, dan seorang yang membangkitkan semangatku tinggal di perantauan, apalagi setelah lama tak ada kabar dari Tindra.

Aku seringkali menghabiskan sore di Fort Marlborough, benteng sisa peninggalan jaman kolonial. Menikmati senja kalau sudah tak ada pekerjaan yang mesti dilembur. Lain lagi hari Minggu, pagi buta sudah berlari-lari sampai pantai Panjang. Hembusan angin laut seakan membawa kepenatan kerja sepekan. Entah ini baik untuk kesehatan atau malah sebaliknya. Aku hanya suka saja melakukannya. Dan pasti Pipit ada menemaniku.

Saat-saat pertama aku melihatnya sering bersama teman lelakinya. Aku yakin itu kekasihnya. Tiap kali aku ke benteng selalu kudapati mereka. Pasangan yang serasi dan membuat iri tiap mata yang memandang. Hingga suatu sore tak kudapati pemandangan itu. Baru setelah mengenalnya, aku tahu bahwa mereka sudah putus cinta. Tiap kali kutanyakan sebabnya, tiapkali pula aku tak mendapatkan jawaban.

“Masih kecil jangan pacaran dulu, nona…..” nasehat yang sering kulontarkan kepadanya.

Ia pasti berkilah. “Salah! Pacaran itu mata pelajaran nomor satu di SMA…..”

Bersamanya aku jadi tahu banyak tempat yang wajib dikunjungi di Bengkulu. Suatu ketika di perjalanan mendaki bukit Kaba ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sewaktu Pipit membuka tas daypack-nya, tak sengaja ada benda yang jatuh. Aku tahu itu adalah kepingan segiempat yang kuberikan kepadanya. Aku memungutnya dan alangkah terkejutnya aku. Di kepingan itu ditempel foto close up-ku. Aku tertawa, sebaliknya dia kelihatan gugup dan secepatnya merebut kemudian memasukkannya lagi ke tas.

“Kamu mau jadi pacarku?” gurauku suatu waktu.

“Nggak mau!” jawab Pipit cepat. “Kamu bilang anak kecil tidak boleh pacaran dulu, lagian nggak enak pacaran sama kamu…..”

Aku tertawa dan menanyakan alasannya. Pipit hanya tersenyum.

Aku suka berada di dekatnya. Aksen bicaranya mampu membuatku ikut ceria seperti yang ditawarkan pada bening matanya.



[cerpen] Langit Pucat Fort Marlborough

* Langit Pucat Fort Marlborough [1]

* Langit Pucat Fort Marlborough [2]

* Langit Pucat Fort Marlborough [3]